top of page
unpad_edited_edited_edited.png

Mendorong Inovasi Berbasis Bukti, FiNder Unpad Fasilitasi Workshop Riset dan Inovasi BPJS Kesehatan

  • Gambar penulis: Ulfa Fauziah, M.Si.
    Ulfa Fauziah, M.Si.
  • 4 hari yang lalu
  • 4 menit membaca

19-20 Agustus 2026 | Mercure Alam Sutera - Inovasi yang berdampak tidak lahir hanya dari ide yang menarik. Ia membutuhkan kemampuan untuk memahami masalah secara tepat, membaca bukti secara kritis, menguji asumsi, menilai risiko, dan menerjemahkan hasil analisis menjadi keputusan yang dapat dijalankan. Semangat inilah yang menjadi benang merah dalam Workshop Inovasi dan Riset BPJS Kesehatan 2026 yang didampingi oleh tim expert PUI-PT FiNder Universitas Padjadjaran. 


Workshop dilaksanakan pada 19-20 Agustus 2026 di Mercure Alam Sutera dengan melibatkan sekitar 60 peserta dari berbagai fungsi di lingkungan BPJS Kesehatan. Program dirancang sebagai penguatan sekaligus asesmen kesiapan menuju kompetensi Level 4 atau Advanced pada lima kompetensi utama, yaitu Analytical Thinking, Conceptual Thinking, Innovation Management, Research and Development, serta Fostering Creativity and Innovation.



Prof. I Made Joni sebagai narasumber Workshop Inovasi dan Riset BPJS Kesehatan
Prof. I Made Joni memberikan materi kepada peserta mengenai pendekatan sistematis dalam membangun dan mengelola inovasi.

  

Pembelajaran Berbasis Kasus Nyata


Workshop Inovasi dan Riset BPJS Kesehatan dirancang menggunakan pendekatan experiential learning, challenge-based learning, dan evidence-based decision making. Berbeda dari pelatihan yang didominasi penyampaian materi, komposisi pembelajaran diarahkan sekitar 20 persen pada kerangka konseptual dan 80 persen pada praktik, asesmen, simulasi, coaching, peer review, serta debrief.


Peserta dibagi menjadi enam kelompok dan masing-masing mengembangkan satu kasus secara berkelanjutan. Dengan desain ini, setiap sesi bukan merupakan materi yang berdiri sendiri. Output dari satu tahap menjadi input bagi tahap berikutnya, mulai dari memahami konteks strategis hingga menyusun rekomendasi implementasi.


Alur pembelajaran bergerak melalui enam tahapan utama: Strategic Context & Governance, Evidence & Root Cause, Conceptual Synthesis & Ideation, Readiness & Gap Review, Research/Pilot Design, serta Implementation & Executive Pitch. Pada hari pertama, peserta mulai dengan melihat inovasi sebagai sebuah sistem. Mereka memetakan hubungan antara strategi, tata kelola, stakeholder, proses, sumber daya, dan penciptaan nilai. Peserta kemudian melakukan analisis masalah dengan membedakan fakta, asumsi, gejala, penyebab langsung, faktor yang berkontribusi, serta akar permasalahan.


Prof. Camellia Panatarani dalam Workshop Inovasi dan Riset BPJS Kesehatan
Prof. Camellia Panatarani memberikan materi dan penguatan kepada peserta dalam rangkaian Workshop Inovasi dan Riset BPJS Kesehatan 2026.

Proses tersebut dilanjutkan dengan penyusunan problem statement, eksplorasi kebutuhan pengguna, pengembangan sejumlah alternatif solusi, penyusunan value proposition, hingga pembuatan low-fidelity prototype. Tujuannya bukan sekadar menghasilkan ide baru, tetapi memastikan bahwa solusi yang dipilih memiliki hubungan yang jelas dengan akar masalah dan kebutuhan pengguna.


FGD sebagai Ruang Menguji Evidence dan Argumentasi


Salah satu aktivitas utama dalam workshop adalah Focus Group Discussion atau FGD. Pada tahap ini, meja kelompok menjadi ruang kerja peserta untuk menyusun worksheet, memetakan hubungan sebab-akibat, mendiskusikan evidence, menguji asumsi, serta membangun argumentasi bersama.


Prof. Diana Sari dalam Workshop Inovasi dan Riset BPJS Kesehatan
Prof. Diana Sari memberikan materi dan penguatan kepada peserta dalam pengembangan solusi dan implementasi inovasi. 

Dalam desain workshop, studi kasus bukan sekadar aktivitas tambahan. Ia menjadi dasar pembelajaran dari Sesi 1 hingga Sesi 6. Peserta juga tidak diarahkan hanya untuk “menyelesaikan worksheet”. Setiap artefak yang dihasilkan harus menunjukkan proses berpikir, penggunaan bukti, pertimbangan trade-off, dan dasar keputusan kelompok.


Tim expert FiNder berperan tidak hanya menyampaikan kerangka konsep, tetapi juga memfasilitasi diskusi, memberikan challenge, mempertanyakan klaim yang belum memiliki evidence memadai, serta memberikan feedback agar reasoning peserta semakin kuat. Dengan pendekatan ini, proses belajar bergerak dari transfer pengetahuan menuju pembentukan kemampuan untuk menilai, menghubungkan, dan mempertanggungjawabkan keputusan inovasi.


Dari Ide Menuju Kesiapan Implementasi


Memasuki hari kedua, fokus pembelajaran bergeser. Jika hari pertama menekankan pemahaman masalah dan pengembangan solusi, maka hari kedua menguji pertanyaan yang lebih kritis: seberapa siap solusi tersebut untuk dilanjutkan? Peserta melakukan Holistic Innovation Readiness Level Assessment dengan melihat kesiapan dari tujuh dimensi, yaitu pengguna atau pasar, teknologi dan operasional, finansial atau model nilai, legal dan kepatuhan, organisasi dan SDM, kemitraan strategis, serta manajemen risiko. 


Prinsip yang ditekankan adalah evidence before score. Skor readiness tidak boleh diberikan hanya karena sebuah solusi terlihat menarik atau dianggap siap oleh tim. Setiap klaim kesiapan harus dapat ditelusuri kepada bukti, sementara gap dan keterbatasan harus dinyatakan secara terbuka.


Setelah mengidentifikasi gap kesiapan, peserta menyusun hipotesis kritis, menentukan metode pengujian, menetapkan metrik, dan merancang market test atau pilot. Proses ini mendorong peserta untuk tidak berusaha membuktikan bahwa ide mereka selalu benar, tetapi mencari bukti yang cukup untuk mengambil keputusan go, iterate, atau stop.


Peserta mengerjakan worksheet pada Workshop Inovasi dan Riset BPJS Kesehatan
Peserta mengikuti FGD kelompok untuk mengolah evidence, menganalisis permasalahan, dan menyusun artefak inovasi secara kolaboratif. 

Rangkaian pembelajaran kemudian bermuara pada penyusunan action plan, roadmap, milestone, kebutuhan sumber daya, risiko, serta executive pitch. Peserta ditantang untuk membangun satu rantai logika yang konsisten dari problem, evidence, root cause, solution, validation, readiness, roadmap, hingga decision ask.


Enam kelompok menghasilkan enam proyek inovasi, yaitu SEHATI, CERDAS PRB, SIPAPI KEBO, SAKTI JKN, AUTOPASTI, dan KOMPAS TALENTA. Tema yang diangkat menunjukkan keragaman persoalan organisasi, mulai dari kepesertaan pekerja, Program Rujuk Balik, kepatuhan Badan Usaha, pembayaran autodebet, hingga pengembangan talenta. Walaupun fokusnya berbeda, seluruh kelompok menggunakan disiplin yang sama: masalah harus spesifik, evidence harus dipisahkan dari asumsi, solusi harus memiliki value proposition yang jelas, dan klaim kesiapan perlu didukung bukti.


Hasil evaluasi terhadap artefak kelompok menunjukkan rerata capaian 91,2 dengan kategori Sangat Baik. Capaian tertinggi terdapat pada Sesi 4, Holistic Innovation Readiness Level Assessment, dan Sesi 6, Action Plan & Pitching Inovasi, yang masing-masing memperoleh rerata 92,1. Hasil tersebut menunjukkan kualitas kinerja kelompok selama proses pembelajaran dan tidak dimaknai sebagai penetapan otomatis kompetensi individual Level 4.


Kolaborasi untuk Mendorong Inovasi yang Lebih Siap


Rangkaian kegiatan ditutup dengan pemberian plakat sebagai bentuk apresiasi kepada tim expert yang telah memfasilitasi pembelajaran selama workshop. Momentum tersebut sekaligus menegaskan bahwa pengembangan inovasi membutuhkan kolaborasi antara organisasi, peserta, fasilitator, dan expert agar sebuah gagasan dapat bergerak dari identifikasi masalah menuju pembuktian dan kesiapan implementasi.  


Workshop Inovasi dan Riset BPJS Kesehatan
Prof. I Made Joni menerima plakat apresiasi setelah rangkaian fasilitasi workshop.


Workshop Inovasi dan Riset BPJS Kesehatan
Prof. Camellia Panatarani menerima plakat apresiasi dalam rangkaian penutupan workshop.

Workshop Inovasi dan Riset BPJS Kesehatan
Prof. Diana Sari menerima plakat apresiasi dalam rangkaian penutupan workshop.

Workshop Inovasi dan Riset BPJS Kesehatan
Foto bersama tim expert dan penyelenggara setelah rangkaian Workshop Inovasi dan Riset BPJS Kesehatan 2026.

Lebih dari sekadar menghasilkan ide atau pitch deck, workshop ini menunjukkan pentingnya membangun disiplin inovasi. Sebuah gagasan perlu ditopang oleh kemampuan memahami persoalan secara komprehensif, menggunakan evidence dengan tepat, menguji ketidakpastian, serta merancang implementasi yang realistis dan dapat dipertanggungjawabkan. Dengan fondasi tersebut, inovasi tidak berhenti sebagai aktivitas kreatif, tetapi berkembang menjadi proses pengambilan keputusan yang terstruktur dan berorientasi pada penciptaan nilai.



Workshop Inovasi dan Riset BPJS Kesehatan
Foto bersama seluruh peserta dan tim pendamping menutup rangkaian pembelajaran kolaboratif selama dua hari.

FiNder Universitas Padjadjaran terus membuka peluang kolaborasi bagi institusi, industri, dan organisasi yang ingin memperkuat kapabilitas riset, inovasi, pengembangan teknologi, dan transformasi berbasis bukti. Pelajari lebih lanjut tentang kepakaran, program, fasilitas, dan peluang kolaborasi melalui finder.ac.id, serta bangun inovasi yang tidak hanya menghasilkan ide, tetapi mampu bergerak menuju implementasi dan dampak nyata.


bottom of page