Inovasi Teknologi Pangan: Terobosan Global dan Arah Perkembangan di Indonesia
- Adam Rusli

- 18 Des 2025
- 4 menit membaca
Pendahuluan: Lompatan Teknologi dalam Industri Pangan Modern
Industri pangan global sedang mengalami transformasi yang sangat cepat. Teknologi baru kini mencakup inovasi bioteknologi, kecerdasan buatan (AI), sistem pertanian presisi, dan rekayasa protein. Organisasi pangan dunia seperti FAO menyatakan bahwa teknologi pangan adalah salah satu sektor paling agresif tumbuh, didorong investasi global di bidang food-tech.
Indonesia dengan kekayaan biodiversitasnya memiliki peluang besar, namun perlu mengejar ketertinggalan di bidang riset dan teknologi pangan. Artikel ini menyajikan inovasi pangan global yang sedang naik daun dan memetakan relevansinya bagi Indonesia.
Inovasi Teknologi Pangan di Tingkat Global
1. Bioteknologi Presisi: Precision Fermentation untuk Protein Alternatif
Teknologi precision fermentation memungkinkan mikroorganisme direkayasa untuk memproduksi protein hewani, seperti whey atau kasein, tanpa menggunakan hewan sama sekali. Perusahaan telah memproduksi susu dan keju bebas sapi dengan identitas protein yang identik.
FAO mengakui precision fermentation sebagai teknologi kunci untuk sistem pangan berkelanjutan dan berketahanan, menawarkan potensi besar untuk mengurangi dampak lingkungan dibandingkan peternakan konvensional [1].

2. Digitalisasi Pangan: AI Food Safety dan Prediksi Mutu Cerdas
Sistem AI digunakan untuk memantau perubahan mikroba, suhu produk, hingga deformasi kemasan. Teknologi ini memungkinkan prediksi kerusakan pangan sebelum terjadi, mengurangi potensi foodborne disease.
Uni Eropa (UE) mendorong penggunaan label kedaluwarsa dinamis (Dynamic Expiry Label) yang berubah berdasarkan kondisi real-time, bukan tanggal statis. Inisiatif semacam ini di Eropa terbukti efektif dalam mengurangi pemborosan pangan yang disebabkan oleh kebingungan konsumen [2].

3. Pertanian Presisi: Vertical Farming dan Keamanan Pangan Urban
Belanda, Singapura, dan UEA memimpin penerapan pertanian vertikal berbasis IoT, LED spektrum tanaman, dan robot panen. Negara-negara ini memproduksi sayuran berkualitas tinggi tanpa tanah, dengan konsumsi air 90% lebih rendah.
Vertical farming penting bagi keamanan pangan jangka panjang karena menjamin produksi stabil sepanjang tahun dan mendekatkan sumber makanan ke pusat kota (urban food security) [3].

Peta Jalan Inovasi Pangan Indonesia: Peluang dan Keterbatasan
Posisi dan Perkembangan Indonesia
Indonesia mulai meneliti protein alternatif dari tempe, kacang-kacangan lokal, jamur, hingga mikroalga. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) secara aktif mendorong pemanfaatan mikroalga sebagai sumber pangan dan pakan tambahan [4]. Namun, teknologi Indonesia masih di tahap awal dan belum mencapai rekayasa presisi setingkat fermented dairy global.
Digitalisasi keamanan pangan masih terbatas pada perusahaan besar, sementara UMKM menghadapi keterbatasan biaya. Urban farming berbasis IoT mulai diadopsi di kota-kota besar, tetapi skalanya masih mikro.
Kesenjangan Teknologi Pangan: Perbandingan Fase Global vs Indonesia
Negara maju telah memasuki fase industrialisasi inovasi pangan, di mana riset bioteknologi menjadi tulang punggung pengembangan produk (seperti precision fermentation dan kultur daging). Fokus global adalah keamanan, stabilitas pasokan, dan efisiensi energi.
Sebaliknya, Indonesia masih berada pada tahap adopsi awal. Inovasi banyak berfokus pada pemanfaatan bahan lokal (tempe, rempah, mikroalga), namun belum mencapai tingkat presisi teknologi global. Indonesia juga masih mengandalkan impor alat untuk fermentasi presisi dan analisis AI.
Perbandingan Inovasi: Fase Industrialisasi Global vs. Kesiapan Indonesia
Meskipun Indonesia kaya sumber daya alam, terdapat kesenjangan signifikan yang menghambat lompatan teknologi pangan:
Fase Industrialisasi Global: Negara-negara maju telah mengatasi hambatan awal dengan investasi riset besar-besaran (misalnya, Korea Selatan 4,5% dari PDB) yang menopang precision fermentation dan cultured meat. Mereka memiliki regulasi produk inovatif yang matang, memungkinkan komersialisasi cepat. Selain itu, infrastruktur rantai dingin (cold chain) mereka sudah mapan, menjamin kualitas produk sensitif dari pabrik ke konsumen.
Kesiapan Indonesia: Indonesia masih menghadapi empat tantangan utama:
Minimnya Investasi R&D: Investasi riset di Indonesia masih di bawah 0,3% dari PDB. Tanpa penguatan ini, inovasi berbasis bioteknologi hanya akan menjadi konsumen teknologi, bukan pencipta.
Regulasi Produk Inovatif Belum Siap: Produk bioteknologi baru (seperti protein fermentasi) membutuhkan pedoman keamanan pangan yang jelas dari BPOM. Ketiadaan regulasi yang cepat membuat investor ragu masuk pasar.
Kesenjangan Infrastruktur Rantai Dingin: Infrastruktur rantai dingin di Indonesia belum merata. Distribusi yang panjang dan minim fasilitas penyimpanan suhu rendah menyebabkan banyak produk segar dan produk fermentasi mengalami kerusakan.
Kesenjangan SDM Digital: Keahlian dalam bioengineering, data pangan, IoT pertanian, serta sensor food safety masih terbatas. Perguruan tinggi perlu memperbanyak kurikulum food-tech modern.
Kesimpulan
Industri pangan global sedang bergerak menuju masa depan berbasis bioteknologi, kecerdasan buatan, dan pertanian presisi. Inovasi seperti precision fermentation, AI food safety, dan vertical farming telah membuktikan bahwa pangan adalah hasil dari sistem teknologi yang kompleks.
Indonesia memiliki potensi besar melalui biodiversitasnya. Untuk menjadi pemain global, diperlukan akselerasi besar dalam investasi riset, pembangunan infrastruktur pangan modern, serta regulasi yang mendukung inovasi. Dengan memadukan sumber daya alam yang kaya dan teknologi canggih, Indonesia dapat mengokohkan dirinya sebagai pusat inovasi pangan tropis dunia.
Untuk mengakselerasi lompatan inovasi teknologi pangan, ekosistem pangan nasional perlu bersepakat pada langkah konkret. Pembentukan Badan Pendanaan Riset Pangan Khusus (Dedicated Food-Tech Fund) dapat diinisiasi pemerintah bersama lembaga keuangan dan mitra industri untuk mendanai startup bioteknologi lokal yang berfokus pada precision fermentation dan penguatan rantai dingin. Secara paralel, BPOM bersama kementerian teknis, asosiasi industri, dan komunitas ilmiah perlu mempercepat penyelesaian regulasi produk protein seluler serta implementasi label cerdas, sehingga inovasi dapat segera dikomersialkan, mendapatkan kepercayaan publik, dan terserap pasar secara luas.
Referensi
[1] FAO. (2025). Food safety in precision fermentation: everything you need to know about the new FAO report. GFI Europe. https://gfieurope.org/blog/food-safety-in-precision-fermentation-everything-you-need-to-know-about-the-new-fao-report
[2] SISTERS Project (EU H2020). (2025). Giving Food a Second Chance: How Dynamic Labelling Helps Cut Retail Waste. https://sistersproject.eu/giving-food-a-second-chance-how-dynamic-labelling-helps-cut-retail-waste/
[3] Market Report Analytics. (2025). Emerging Growth Patterns in Vertical Farming Market Research Market (Menganalisis pertumbuhan CAGR global). https://www.marketreportanalytics.com/reports/vertical-farming-market-research-399029
[4] BRIN Indonesia. (2025). BRIN Dorong Pemanfaatan Mikroalga untuk Pengembangan Pertanian dan Peternakan di Pondok Pesantren. https://www.brin.go.id/news/124588/brin-dorong-pemanfaatan-mikroalga-untuk-pengembangan-pertanian-dan-peternakan-di-pondok-pesantren
Sumber Data Gambar:
[G1] Perfect Day Fermentation Facility Photo. Diakses dari FoodTech News: https://www.fortunebusinessinsights.com/precision-fermentation-market-109824
[G2] European Smart Expiry Label Prototype.https://www.ynvisible.com/news-inspiration/smart-expiry-date-label
[G3] Aerofarms LED Vertical Farm Interior.: https://ternakayam.id/2024/08/14/robotika-adalah-kunci-pertanian-modern-benarkah/




Komentar