Startup Berbasis Riset: Mengapa Banyak Gagal dan Bagaimana Memperbaikinya?
- Resni Rindayani

- 19 Des 2025
- 4 menit membaca
Dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia mulai melihat tumbuhnya startup berbasis riset—mulai dari bioteknologi, material baru, agritech, energi, hingga kecerdasan buatan. Dukungan pemerintah melalui program pendanaan riset, BRIN, dan dorongan hilirisasi membuat banyak peneliti, kampus, dan innovation hub berlomba membangun startup dari hasil riset laboratorium.
Namun realitasnya, sebagian besar startup berbasis riset tidak berhasil mencapai pasar atau bertahan secara komersial. Data global menunjukkan bahwa lebih dari 90% deep-tech startup gagal di lima tahun pertama [1].
Mengapa hal ini bisa terjadi, bahkan ketika teknologinya sangat canggih dan solutif?
Jawabannya karena inovasi teknis bukan satu-satunya faktor penentu keberhasilan startup berbasis riset. Ada tantangan struktural, psikologis, pasar, dan ekonomi yang tidak dialami startup digital biasa.

Banyak Startup Riset Lahir dari Teknologi, Bukan dari Masalah
Ini kesalahan yang paling umum. Peneliti sering memulai startup karena:
“Teknologi ini sangat canggih.”
“Tidak ada orang lain di Indonesia yang mengembangkan ini.”
“Kami punya paten.”
Padahal, pasar tidak membeli teknologi tetapi pasar membeli solusi atas masalah.
Menurut MIT Entrepreneurship Lab (2024), 73% startup riset gagal karena tidak ada product-market fit, bukan karena teknologinya tidak bekerja [2].
Contoh umum:
Material baru yang sulit diproduksi massal
Sensor atau perangkat IoT yang tidak sesuai kebutuhan industri
Inovasi pangan yang tidak memiliki rantai pasok kuat
Bioteknologi yang butuh regulasi sangat berat
Tanpa pemahaman pasar sejak awal, riset tidak akan pernah berubah menjadi produk.
TRL Tinggi Tidak Menjamin Siap Komersial
Sering kali teknologi berada pada TRL 6–7, tetapi gagal ketika dipindahkan ke industri karena tidak memenuhi aspek IRL (Innovation Readiness Level):
biaya produksi belum ekonomis
supply chain tidak tersedia
kapasitas produksi tidak stabil
regulasi belum jelas
model bisnis tidak sesuai kebutuhan industri
Inilah versi startup dari “valley of death”, jurang antara: teknologi siap secara teknis dan teknologi siap secara pasar. OECD (2024) menegaskan bahwa startup berbasis riset harus dinilai dengan framework komersialisasi, bukan hanya maturity teknis [3].
Tim Founder Tidak Seimbang (Scientist-heavy, Business-poor)
Startup riset sering berisi:
ilmuwan
dosen
peneliti
engineer
Mereka ahli dalam riset, tetapi tidak dibekali:
strategi pasar
desain produk
pricing
operasi bisnis
pitching investor
pemetaan regulasi
Menurut Harvard Business Review (2023), 90% deep-tech startup yang berhasil memiliki kombinasi founder sains + founder bisnis yang seimbang [4].
Tanpa pemimpin bisnis yang kuat, teknologi hebat pun tidak dapat keluar dari laboratorium.
Waktu Komersialisasi Terlalu Lama
Startup digital bisa pivot dalam 2 minggu. Startup riset bisa butuh 2–10 tahun hanya untuk siap masuk pasar.
Contoh:
teknologi baterai: 8–12 tahun
bioteknologi medis: 10–15 tahun
material baru: 5–8 tahun
alat kesehatan: 3–6 tahun [4]
Investor konvensional tidak sabar dengan timeline seperti ini. Karena itu banyak startup riset mati bukan karena gagal tetapi kehabisan runway sebelum menemukan pasar.
Regulasi dan Standardisasi yang Rumit
Deeptech tidak bisa bergerak tanpa kepastian regulasi:
alat kesehatan perlu uji klinis
pangan perlu izin BPOM
energi perlu izin operasi
bioteknologi perlu biosafety
Proses regulasi bisa memakan waktu bertahun-tahun, dan tidak semua startup siap melakukannya.
Di Indonesia, banyak inovasi riset berhenti karena mentok pada:
uji pasar terbatas
sertifikasi tidak tersedia
kebijakan belum mendukung
Tanpa strategi regulasi sejak awal, startup akan macet di tengah.
Industri Takut Risiko – Tidak Mau Menjadi “Tester” Produk Riset
Seperti artikel sebelumnya tentang mengapa industri menolak inovasi, hal ini juga berlaku untuk startup.
Industri besar di Indonesia lebih suka:
teknologi yang sudah terbukti di luar negeri
vendor besar yang stabil
pasokan yang konsisten
Startup riset sering dianggap: “Teknologinya bagus, tapi risikonya terlalu besar.”
Menurut laporan McKinsey (2024), industri hanya mau mengadopsi teknologi baru jika:
ada bukti skala pilot
ada jaminan supply chain
ada mitra institusional (kampus, BUMN, BRIN, atau Kementerian)
Tanpa itu, inovasi sulit masuk ke industri [6]
Bagaimana Cara Memperbaikinya?
Berdasarkan kajian MIT, BCG, WEF, dan OECD, berikut strategi paling efektif:
1. Mulai dari Masalah, Bukan dari Teknologi
Gunakan pendekatan “problem-first innovation”.
Wawancara industri
Survei kebutuhan lapangan
Observasi rantai pasok
Analisis risiko dan biaya industri
Jika teknologi tidak menyelesaikan masalah nyata, startup akan jatuh sebelum dimulai.
2. Libatkan Industri dari Tahap Riset Awal
Co-creation adalah kunci hilirisasi.
Startup riset sukses biasanya memiliki:
mitra industri sejak TRL 3–4
pilot project industri
komitmen pembelian (PO) sebelum produksi besar
Ini juga mempercepat IRL.
3. Bentuk Tim Founder yang Seimbang
Wajib ada:
ilmuwan/engineer
ahli bisnis
ahli regulasi (tergantung sektor)
Ini terbukti meningkatkan peluang sukses hingga 3 kali lipat [2]
4. Sediakan Rencana Pendanaan Multi-Tahap
Startup riset tidak bisa hanya mengandalkan angel investor. Perlu:
pendanaan hibah (BRIN, LPDP, Kemenperin)
pendanaan riset kolaboratif
pendanaan seed untuk produk awal
pendanaan seri lanjutan untuk scale-up
Tanpa pipeline pendanaan, teknologi akan berhenti di tengah.
5. Gunakan Framework IRL untuk Mengukur Kesiapan Komersial
Ini yang jarang dilakukan startup berbasis riset.
IRL membantu menilai:
kesiapan pasar
kesesuaian regulasi
kesiapan biaya produksi
kesiapan rantai pasok
kesiapan mitra industri
kesiapan model bisnis
Startup yang menilai IRL sejak awal memiliki kemungkinan 40% lebih tinggi untuk masuk pasar [3].
6. Bangun Kemitraan dengan BUMN, BRIN, dan Kampus
Kolaborasi dengan lembaga besar memberi legitimasi dan mempercepat adopsi teknologi.
BUMN dan BRIN dapat berperan sebagai:
Pembeli awal
Fasilitator pilot project
Penyedia fasilitas riset lanjutan
Mitra komersialisasi
Kesimpulan
Startup berbasis riset gagal bukan karena teknologinya jelek, tetapi karena:
Tidak ada pasar
Tidak ada tim bisnis
Tidak ada pendanaan berkelanjutan
Tidak siap regulasi
Tidak siap produksi
Tidak ada champion industri
Dengan pendekatan problem-first, kemitraan industri, tim yang seimbang, dan evaluasi IRL sejak awal, startup riset Indonesia dapat melompat dari laboratorium ke pasar dengan lebih cepat.
Referensi
Boston Consulting Group (2023). Deep Tech: The Great Wave of Innovation.
MIT Innovation Lab (2024). Deep Tech Entrepreneurship Report.
OECD (2024). Science, Technology and Innovation Outlook.
Harvard Business Review (2023). Why So Many High-Tech Startups Fail.
WEF (2023). Future of Deep Tech and Innovation Ecosystems.
McKinsey Global Institute (2024). Commercializing R&D in Emerging Markets.




Komentar