Mengapa Industri Sering Menolak Inovasi Baru?
- Resni Rindayani

- 19 Des 2025
- 3 menit membaca
Ketika para peneliti menghasilkan teknologi baru, para innovator sering bertanya: “Mengapa industri tidak mau mengadopsi inovasi ini?” Padahal produknya terbukti lebih efisien, ramah lingkungan, murah, atau lebih canggih dibanding teknologi lama.
Fenomena ini bukan rahasia. Banyak inovasi riset, baik di universitas, BUMN, pusat riset, maupun startup gagal masuk ke industri bukan karena teknologinya lemah, melainkan karena industrinya tidak siap menerima inovasi. Penolakan terhadap inovasi ternyata memiliki penjelasan ilmiah, mulai dari bias psikologis, risiko ekonomi, ketidakcocokan proses bisnis, hingga budaya organisasi.

Kenapa Industri Menolak Inovasi? Jawabannya Jarang Sesederhana "Teknologinya Tidak Siap"
Bias Psikologis: Manusia Cenderung Menolak Hal Baru
Peneliti NYU menyebut fenomena ini sebagai “psychological inertia” yaitu kecenderungan manusia (dan organisasi) untuk mempertahankan status quo bahkan ketika ada pilihan yang lebih baik [1].
Ada tiga bias besar yang memengaruhi perilaku industri:
a. Loss Aversion
Orang lebih takut kehilangan sedikit dibanding kemungkinan mendapat keuntungan besar. Dalam konteks industri:
Mengganti mesin lama = risiko berhenti produksi
Mengadopsi teknologi baru = ketidakpastian kualitas
b. Ambiguity Aversion
Industri cenderung menghindari solusi yang belum terbukti secara komersial. Contohnya teknologi lab yang matang (TRL tinggi) tapi belum pernah digunakan industri dengan skala besar dianggap “terlalu berisiko”.
c. Confirmation Bias
Tim manajemen sering mencari informasi yang menguatkan keputusan lama, bukan membuka diri terhadap inovasi baru.
Faktor Ekonomi: Adopsi Teknologi Tidak Pernah Gratis
Menurut McKinsey (2024), alasan terbesar industri menolak inovasi baru adalah ketidakcocokan biaya dan manfaat [2].
a. Biaya transisi
Mengganti teknologi membutuhkan:
training pekerja
modifikasi mesin
penyusunan SOP baru
downtime produksi
Biaya transisi bisa lebih besar daripada manfaat jangka pendek teknologi baru.
b. Skala produksi belum stabil
Industri butuh pasokan stabil, konsisten, dan volume besar. Jika inovasi baru belum bisa diproduksi masif maka industri tidak mau mengambil risiko.
c. Risiko regulasi
Industri makanan, kesehatan, energi, dan kimia harus mengikuti regulasi ketat. Teknologi baru berarti risiko audit, sertifikasi, bahkan re-evaluasi dokumen legal, proses yang memakan waktu & biaya.
Budaya Organisasi: Struktur Lama Tidak Selaras dengan Inovasi Baru
Harvard Business School menyebut bahwa inovasi sering gagal bukan karena teknologinya buruk, tetapi karena organisasi tidak didesain untuk teknologi tersebut [1].
a. Struktur organisasi yang birokratis
Perusahaan besar sering lambat mengambil keputusan. Sebuah riset HBS menyebutkan bahwa butuh rata-rata 15–24 bulan agar inovasi baru disetujui di perusahaan besar.
b. Tidak ada champion atau pemimpin inovasi
Tanpa sosok yang mendorong inovasi secara internal, adopsi akan selalu kalah oleh pekerjaan operasional yang dianggap lebih mendesak.
c. Konflik kepentingan internal
Inovasi sering membuat beberapa divisi lama “tidak relevan”. Akibatnya terjadi resistensi internal.
Studi Kasus Global: Innovator's Dilemma Masih Terjadi
Clayton Christensen dalam The Innovator’s Dilemma [3] menjelaskan bahwa perusahaan sukses sering gagal mengadopsi teknologi baru karena terlalu fokus pada:
pelanggan besar
margin besar
model bisnis lama
Contoh nyata:
Kodak menolak kamera digital padahal mereka yang menemukannya.
Nokia menolak sistem operasi modern karena takut mengganggu produk suksesnya.
Blockbuster menolak streaming karena margin rental masih besar.
Semua contoh ini bukan soal teknologi buruk tapi soal ketidakcocokan organisasi dan model bisnis.
Apa Maknanya untuk Indonesia?
Di Indonesia, fenomena ini juga terlihat dalam:
lambatnya adopsi teknologi manufaktur baru
lambatnya hilirisasi riset kampus
lemahnya pemanfaatan hasil riset BRIN, kampus, dan lembaga daerah
sulitnya inovasi pangan, kesehatan, pertanian, dan material diterapkan industri besar
Penyebabnya sama:
ketakutan mengubah lini produksi
ketidakcocokan skala produksi
minimnya dukungan regulasi
belum adanya business case solid
kurangnya “champion” inovasi di perusahaan
Strategi Agar Inovasi Tidak Lagi Ditolak Industri
Berdasarkan HBR [1], McKinsey [2], dan OECD [4], ada lima strategi utama:
Libatkan industri sejak tahap riset awal
Co-creation terbukti mempercepat adopsi 3–5 kali lebih cepat.
Tonjolkan manfaat yang relevan untuk bisnis, bukan hanya teknis
Industri tidak butuh inovasi yang canggih tapi mereka butuh inovasi yang menghemat biaya, mempercepat produksi, dan menurunkan risiko.
Sediakan bukti performa skala pilot atau semi-industri
Industri lebih percaya pada proof of scale daripada proof of concept.
4. Gunakan pendekatan IRL—bukan TRL saja
Menilai kesiapan inovasi dari aspek:
pasar
regulasi
biaya
supply chain
model bisnis
Ciptakan champion di dalam perusahaan
Seseorang yang mendorong inovasi dari dalam organisasi, bukan sekadar tamu dari luar.
Kesimpulan
Industri tidak menolak inovasi karena inovasinya jelek, melainkan karena:
Risiko terlalu tinggi
Proses bisnis tidak siap
Biaya transisi besar
Budaya organisasi tidak mendukung
Bukti komersial belum kuat
Dengan memahami psikologi, ekonomi, dan struktur organisasi, maka riset dapat dirancang sejak awal agar lebih mudah diterima industri.
Referensi
Harvard Business Review (2023). The Hidden Factors Behind Innovation Failures.
McKinsey Global Institute (2024). R&D Response to Global Disruption.
Christensen, C. M. (2016). The innovator’s dilemma: When new technologies cause great firms to fail (Rev. ed.). Harvard Business Review Press
OECD (2024). Science, Technology and Innovation Outlook.




Komentar