top of page
unpad_edited_edited_edited.png

Science Tech Park & Innovation Hub: Apakah Berefek dan Apa Pelajaran untuk Indonesia?

  • Gambar penulis: Resni Rindayani
    Resni Rindayani
  • 18 Des 2025
  • 5 menit membaca

Ketika inovasi dan riset berhasil dilakukan di kampus atau laboratorium, pertanyaan besar muncul: bagaimana agar hasil riset itu bisa jadi produk atau bisnis yang nyata bukan cuma publikasi? Banyak negara menjawabnya dengan membangun Science Techno Park (STP) atau innovation hub: zona khusus yang menjembatani antara akademia, industri, dan pasar. Tapi, apakah STP benar-benar efektif? Apa kuncinya agar STP tidak sekadar “gedung riset” tetapi benar-benar menjadi mesin hilirisasi inovasi? Artikel ini mencoba mengupas efektivitas STP dengan studi global, pengalaman di Indonesia, dan rekomendasi strategi.


STP & Innovation Hub: Fungsi Ideal dan Konsep Ekosistem Inovasi

STP (Science Tech Park) & innovation hub dirancang sebagai jembatan antara penelitian, pengembangan teknologi, dan komersialisasi. Prinsip dasarnya adalah triple/quadruple-helix yakni kolaborasi antara universitas, industri, pemerintah, dan terkadang masyarakat. Di dalam STP terdapat fasilitas laboratorium, inkubator bisnis, kantor startup, layanan transfer teknologi, dan infrastruktur pendukung lainnya [1].


Tiga hal penting dalam STP
Tiga hal penting dalam STP

Dengan struktur seperti itu, STP idealnya memfasilitasi tiga hal penting:

  1. Knowledge spillover, yaitu ide & teknologi bisa ditukar dan dikembangkan bersama.

  2. Akses sumber daya & fasilitas, diantaranya laboratorium, peralatan riset, ruang kerja, modal awal, mentorship, akses pasar.

  3. Jembatan riset ke produksi/komersialisasi, yaitu inkubasi startup, spin-off universitas, alih teknologi ke industri, perlindungan kekayaan intelektual [2].

Secara teori, STP adalah “kotak percepatan inovasi” dimana sebuah ekosistem yang memungkinkan riset berkembang cepat, diuji, dikembangkan, dan dilepas ke pasar dengan dukungan lengkap.


Bukti Empiris: Apakah STP Memang Bekerja?

Studi Internasional: Efek Positif terhadap Perusahaan

Sebuah penelitian pada 911 perusahaan di Zhangjiang National Innovation Demonstration Zone yaitu kawasan science park di Shanghai, menunjukkan bahwa perusahaan yang berada di dalam science park memiliki peluang lebih tinggi untuk melakukan aktivitas inovasi dibanding perusahaan di luar kawasan [3].

Penelitian lain menyoroti clustering effect: perusahaan baru berbasis teknologi (NTBF – New Technology Based Firms) di kawasan seperti Hsinchu Science Industrial Park (Taiwan) menunjukkan efisiensi R&D yang lebih baik dibanding perusahaan serupa di luar taman teknologi. Mereka lebih inovatif, lebih cepat komersialisasi, dan lebih produktif [4].

Artinya: data empiris mendukung hipotesis bahwa STP bukan sekadar “gedung keren”, tetapi secara nyata meningkatkan probabilitas inovasi dan komersialisasi, terutama bagi perusahaan dan startup yang sebelumnya belum memiliki pengalaman inovasi besar.


Praktik di Indonesia: Ada, Tapi dengan Variasi Hasil

Beberapa perguruan tinggi di Indonesia sudah mengoperasikan STP sebagai jembatan riset–industri:

  • Institut Teknologi Bandung (ITB) melalui ITB Innovation Park (IIP), kampus ini menargetkan hilirisasi riset dengan mengintegrasikan riset, inkubasi, dan alih teknologi dalam satu ekosistem [5]

  • Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) juga aktif, STP-nya mendukung spin-off berdasarkan hasil riset dosen/mahasiswa, menjembatani riset kampus dengan industri otomotif, maritim, ICT, kreatif, dan lainnya [6].

  • Baru-baru ini, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyatakan dorongan untuk mempercepat pengembangan STP di daerah sebagai bagian dari strategi mendayagunakan riset lokal untuk pembangunan dan ekonomi daerah [7].

Selain itu, terjadi tren benchmark dan studi-tiru antar STP di universitas: misalnya STP di Universitas Gadjah Mada (UGM) mengunjungi STP di Universitas Indonesia (UI) untuk mempelajari tata kelola, alih teknologi, dan sistem perlindungan kekayaan intelektual [8].

Tetapi, di sisi lain, hasil komersialisasi dan produktivitas inovasi antar STP masih bervariasi tergantung struktur manajemen, jaringan industri, modal, komitmen kebijakan, dan budaya inovasi di sekitar STP. Ini berarti keberhasilan STP bukan otomatis sehingga perlu strategi, manajemen, dan komitmen bersama.


Faktor Penentu Keberhasilan STP & Innovation Hub

Berdasarkan literatur dan praktik, ada beberapa elemen penting yang menentukan apakah STP benar-benar efektif atau hanya “gedung riset”:

  • Kolaborasi nyata antara akademia–industri–pemerintah (triple/quadruple helix)

    STP harus mampu menjembatani riset kampus dengan kebutuhan industri dan regulasi pemerintah.

  • Infrastruktur & fasilitas lengkap

    Lab riset, ruang kerja, inkubator, fasilitas produksi awal, pendanaan & layanan bisnis.

  • Manajemen alih teknologi & kekayaan intelektual (IP management)

    STP harus mendampingi startup dan riset dalam urusan paten, lisensi, pemasaran, dan produksi.

  • Akses modal dan jaringan pasar

    Investor, venture capital, akses pasar nasional/internasional agar produk hasil riset bisa dikomersialisasikan.

  • Sustainable governance & komitmen jangka panjang

    STP perlu dukungan kebijakan, pendanaan konsisten, monitoring, dan evaluasi agar tidak berhenti di “pembangunan gedung.”

  • Ekosistem pendukung: talenta, inkubasi, pelatihan, serta budaya inovasi

    Tanpa SDM dan budaya yang mendukung, fasilitas saja tidak cukup.



Tantangan & Keterbatasan Science Parks / Tech Hubs

Meskipun banyak potensi, STP dan innovation hub juga menghadapi berbagai tantangan:

  • Investasi besar dan biaya operasional tinggi 

    Pembangunan dan pemeliharaan fasilitas riset & inkubasi memerlukan modal besar, kadang sulit dipertahankan terutama jika output komersial belum muncul [9]

  • Risiko bahwa banyak tenant atau perusahaan kecil tidak aktif inovasi 

    Studi menunjukkan bahwa meskipun lokasi di STP meningkatkan probabilitas inovasi, intensitas inovasi tidak selalu meningkat secara signifikan, terutama bagi perusahaan yang sudah berpengalaman [3]

  • Ketergantungan pada insentif eksternal, subsidi, regulasi 

    Jika dukungan kebijakan melemah, STP bisa kehilangan daya tarik, dan kolaborasi riset–industri bisa terhenti [10]

  • Kesulitan dalam menjembatani gap akademia–industri 

    Meskipun riset calon inovatif, tidak semua riset sesuai dengan kebutuhan industri atau pasar, butuh adaptasi agar relevan.


Pelajaran & Rekomendasi untuk Indonesia

Berdasarkan bukti dan tantangan di atas, berikut rekomendasi strategis bagi pembuat kebijakan, universitas, BUMN/industri, dan investor:

  • Dorong pembangunan STP di daerah sesuai usulan BRIN agar riset lokal bisa dijawab dengan kebutuhan lokal, dan peta inovasi bisa menyebar.

  • Fokus pada pembangunan ekosistem, bukan sekadar fisik seperti inkubator, transfer teknologi, IP management, mentoring, akses pasar, dan investor.

  • Bangun jaringan kolaborasi nasional dan internasional antara universitas, industri, pemerintah, investor, dan diaspora riset agar spillover ilmu dan investasi bisa maksimal.

  • Pastikan keberlanjutan funding dan kebijakan karena STP tidak bisa berjalan sendiri dengan satu periode, harus ada roadmap jangka panjang.

  • Perkuat monitoring dan evaluasi output misalnya paten, spin-off, produk jadi, startup sukses sebagai indikator nyata efektivitas STP.


Kesimpulan

Science Tech Parks dan innovation hubs bukan mitos, tetapi berdasarkan studi internasional dan pengalaman lokal, mereka memiliki potensi nyata untuk mempercepat hilirisasi riset, memunculkan startup, dan meningkatkan inovasi industri. Namun keberhasilan bukan otomatis: butuh kolaborasi, modal, manajemen, dan komitmen bersama.

Bagi Indonesia, STP bisa menjadi tulang punggung transformasi inovasi nasional asalkan dibangun dengan strategi yang matang, fokus keberlanjutan, dan orientasi pasar nyata.


Referensi Utama

  1. Rethinking effectiveness of technology parks and innovation hubs – analisis artikel dan publikasi internasional. (rstechcorp.com)

  2. Albahari, A., Pérez-Canto, S., Barge-Gil, A., & Modrego, A. (2017). Technology parks versus science parks: Does the university make the difference? Technological Forecasting and Social Change, 116, 13–28. https://doi.org/10.1016/j.techfore.2016.11.012

  3. Do Science Parks Promote Companies’ Innovative Performance? Evidence from Shanghai Zhangjiang National Innovation Demonstration Zone. MDPI, 2025. (MDPI)

  4. Are new technology-based firms located on science parks really more innovative? Evidence from Hsinchu Science Industrial Park, Taiwan. ScienceDirect, 2008. (ScienceDirect)

  5. “Science Techno Park dan Lembaga Pengembangan Ilmu dan Teknologi ITB Berperan dalam Hilirisasi Inovasi.” ITB, 2025. (Institut Teknologi Bandung)

  6. Institut Teknologi Sepuluh Nopember. (2025). Kawasan Sains Teknologi. Diakses dari https://www.its.ac.id/stp/kawasan-sains-teknologi/

  7. “BRIN ingin percepat pengembangan science-techno park di daerah-daerah.” Antara, November 2025. (Antara News)

  8. “PENS SKY Venture Studi Banding ke STP UI.” UI Innovation News, 2025. (innovation.ui.ac.id)

  9. Lee, S. (2025, June 12). Innovation hubs: The future. Number Analytics. (Number Analytics)

  10. Hussin, R. (2025, March 29). Rethinking Malaysia’s tech park model: The case for an innovation district. Business Today Malaysia. (BusinessToday)

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bottom of page