Inovasi Teknologi Akuakultur: Material, Metode, dan Sistem Produksi Baru
- Adam Rusli

- 18 Des 2025
- 4 menit membaca
Transformasi Budidaya Perikanan di Era Produksi Tinggi
Industri budidaya perikanan global mengalami percepatan inovasi yang berfokus pada efisiensi biologis, ketahanan lingkungan, serta peningkatan kualitas hasil panen. Negara seperti Norwegia, Jepang, Islandia, dan Kanada memimpin pengembangan teknologi material struktur baru, teknik pembesaran ikan berkelanjutan, dan pakan khusus bernutrisi tinggi.
Berbeda dari tren inovasi berbasis digital atau IoT, tren teknologi terbaru di sektor ini berpusat pada rekayasa material, bioteknologi akuatik, teknik budidaya intensif, dan sistem fisik baru yang meningkatkan produktivitas tanpa merusak lingkungan. FAO pada 2024 melaporkan bahwa 52% suplai ikan dunia kini berasal dari akuakultur. Dengan meningkatnya permintaan protein laut, teknologi budidaya harus berkembang menuju efisiensi nutrisi, ketahanan penyakit, dan peningkatan kualitas air.Di tengah lonjakan permintaan protein laut, inovasi teknologi akuakultur menjadi kunci untuk meningkatkan efisiensi biologis, menjaga kualitas lingkungan, dan menjamin konsistensi hasil panen.

Tiga Pilar Inovasi Teknologi Akuakultur Global dalam Material dan Biologi
1. Material Komposit: Struktur Budidaya Perikanan Tahan Korosi dan Biofouling
Negara seperti Norwegia dan Islandia mengadopsi struktur keramba berbahan komposit polimer–serat kaca (FRP) serta HDPE rekayasa. Material ini memiliki ketahanan tinggi terhadap korosi, tekanan gelombang, biofouling (penempelan organisme laut), dan deformasi suhu.
Keunggulan: Umur pakai lebih dari 20 tahun dan tidak memerlukan pelapisan ulang cat anti-korosi yang berpotensi toksik. Keramba komposit juga lebih aman terhadap sobekan, mengurangi pelepasan mikroplastik, dan secara signifikan menurunkan biaya perawatan jangka panjang. [1]
2. Genetika Akuatik: Pengembangan Strain Ikan Unggul Tahan Penyakit
Jepang dan Kanada memimpin pengembangan strain unggul melalui seleksi genetika konvensional dan bioteknologi non-transgenik. Tujuannya adalah memproduksi ikan yang tumbuh cepat dan kebal penyakit endemik.
Contoh Inovasi: Strain salmon tahan sea lice, strain nila tahan suhu tinggi, dan strain udang tahan penyakit EMS dan IMNV.
Teknik Kunci: Teknik seperti marker-assisted selection (MAS) dan pemuliaan berbasis genomik memungkinkan identifikasi sifat unggul pada tingkat DNA, mempercepat proses seleksi puluhan kali lipat dibandingkan pemuliaan tradisional. Hal ini meningkatkan tingkat kelangsungan hidup ternak dan mengurangi drastis penggunaan antibiotik. [2]
3. Sistem Resirkulasi Material: Inovasi Biofilter Akuakultur Modern
Beberapa negara Eropa mengembangkan sistem RAS (Recirculating Aquaculture System) yang mengutamakan efisiensi material biofilter generasi baru, bahkan tanpa digitalisasi penuh.
Material Biofilter Inovatif: Keramik berpori 3D, bioball rekayasa dengan permukaan ultraporous, dan media karbon aktif terstruktur. Material ini menawarkan kapasitas nitrifikasi tinggi (mengubah amonia beracun menjadi nitrat) dan ideal untuk menjaga kualitas air stabil pada pembibitan ikan laut dan udang intensif. Inovasi material inilah yang memungkinkan penggunaan air yang sangat rendah dalam sistem budidaya. [3]

Kesenjangan Material dan Genetika: Posisi Industri Budidaya Perikanan Indonesia
Posisi dan Perkembangan Indonesia
Indonesia masih banyak menggunakan jaring polietilen standar, keramba besi rentan karat, biofilter sederhana (batu apung), dan sebagian besar masih mengandalkan strain ikan lokal tanpa seleksi genetika tingkat tinggi. Teknologi material komposit FRP masih sangat jarang karena biaya awal yang tinggi.
Perkembangan Positif: BRIN, IPB, dan beberapa BBI sudah melakukan pemuliaan ikan nila (gift), lele, dan udang dengan pendekatan genetika. RAS berbasis material tanpa IoT juga mulai diperkenalkan di hatchery premium.
Analisis Kesenjangan Teknologi Fisik: Fokus Global vs Praktik Lokal
Terdapat kesenjangan mendasar: Fokus global adalah pada rekayasa struktur (Material Sains) dan bioteknologi terapan (Genetika) untuk mengatasi tantangan fisik dan biologis. Sementara itu, Indonesia masih fokus pada peningkatan kapasitas tambak tradisional dan pemantauan air secara manual. Kesenjangan terbesar ada pada kemampuan rekayasa material, yang menghambat ekspansi ke offshore farming yang tahan badai.
Hambatan Adopsi Inovasi Akuakultur: Biaya, SDM, dan Akses Teknologi
Biaya Material Komposit Tinggi: Biaya awal keramba FRP/komposit jauh lebih mahal daripada keramba besi atau kayu. Investasi ini seringkali terlalu berisiko bagi petambak menengah tanpa dukungan pendanaan khusus.
Kurangnya Fasilitas Pemuliaan Genetika Modern: Fasilitas berteknologi marker-assisted selection (MAS) skala industri masih terbatas. Keterbatasan ini memperlambat penciptaan galur unggul yang tahan terhadap penyakit endemik.
SDM Teknik Budidaya Air: Minimnya ahli aquaculture engineering dan teknisi terlatih dalam mengelola sistem RAS dan smart cage yang kompleks.
Standarisasi Infrastruktur: Standarisasi kualitas keramba dan jaring yang digunakan masih belum merata.
Kesimpulan
Industri budidaya perikanan global bergerak ke arah teknologi berbasis material rekayasa, pemuliaan genetika, dan sistem resirkulasi hemat air tanpa bergantung pada digitalisasi. Inovasi ini meningkatkan efisiensi produksi dengan tetap menjaga keberlanjutan lingkungan.
Indonesia memiliki potensi besar, tetapi perlu investasi dalam material komposit, pemuliaan ikan unggul, serta pengembangan media biofilter modern. Dengan langkah strategis, Indonesia dapat memperkuat posisi sebagai produsen akuakultur tropis terbesar dunia.
Untuk mengamankan posisi Indonesia sebagai produsen akuakultur tropis kelas dunia, ekosistem kebijakan perlu bergerak lebih terarah pada instrumen pendanaan dan riset terapan. Pembentukan Badan Pendanaan Komposit Akuakultur dapat diinisiasi sebagai lembaga pembiayaan khusus yang menyediakan skema subsidi dan blended finance untuk investasi material FRP/HDPE rekayasa bagi keramba laut (offshore) dan hatchery intensif, sehingga risiko biaya awal bagi pembudidaya berkurang secara signifikan. Secara paralel, BRIN bersama Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), perguruan tinggi, dan mitra industri perlu mengonsolidasikan Program Genetics Acceleration nasional dengan target tiga tahun untuk menghasilkan strain udang dan ikan laut unggul yang terbukti tahan terhadap penyakit endemik Indonesia dan siap diadopsi skala komersial.
Referensi
[1] Reuters. (2024). Norway Enhances Fish Farm Composite Structure. https://www.reuters.com/business/environment/norway-enhances-fish-farm-composite-structure-2024-03-12
[2] BBC. (2024). Genetic Breeding Transforms Global Fish Farming. https://www.bbc.com/news/science/genetic-fish-breeding-innovation-2024
[3] The New York Times. (2024). Ceramic Biofilter Breakthrough for Aquaculture. https://www.nytimes.com/2024/04/28/climate/aquaculture-ceramic-biofilter.html
[G1] Visual keramba struktur komposit generasi baru yang tahan korosi di Norwegia. https://agroindonesia.co.id/pembangunan-kja-buatan-norwegia-dituding-tidak-nasionalis/
[G2] Keramba laut berbahan FRP generasi terbaru di Norwegia (Ilustrasi Komersial Reuters).https://kalbar.inews.id/berita/tak-berizin-2-hektare-keramba-jaring-apung-di-batam-disegel




Komentar