top of page
unpad_edited_edited_edited.png

Pembekuan Emisi ala Star Wars: Teknologi CCUS Batubara di Indonesia

  • Gambar penulis: Adam Rusli
    Adam Rusli
  • 25 Nov 2025
  • 4 menit membaca

Dalam salah satu adegan paling ikonik di sejarah sinema, Star Wars: The Empire Strikes Back (1980), Darth Vader memerintahkan agar Han Solo dibekukan dalam balok carbonite. Di fasilitas Cloud City, gas karbon disemprotkan dan memadat seketika, memerangkap seseorang dalam suspensi beku yang aman untuk dipindahkan. Teknologi fiksi ini mengubah elemen gas yang sulit dikendalikan menjadi bentuk padat yang terkontrol [1].


Di dunia nyata, industri batubara sedang berjuang melawan "sisi gelap"-nya sendiri: emisi Karbon Dioksida (CO2). Di tengah tekanan transisi energi global, industri ini tidak lagi sekadar menggali dan membakar. Mereka kini berpacu mengembangkan teknologi CCUS (Carbon Capture, Utilization, and Storage) versi dunia nyata dari "pembekuan karbon".


Tujuannya adalah untuk mencegah gas rumah kaca lepas ke atmosfer, "menangkapnya" di sumbernya, dan menyimpannya dengan aman di perut bumi atau mengubahnya menjadi produk bernilai. Artikel ini akan mengulas bagaimana teknologi penangkapan karbon dan hilirisasi menjadi strategi pertahanan terakhir sekaligus transformasi terbesar industri batubara menuju era rendah emisi.


Prinsip Pembekuan Emisi: Strategi Penangkapan Karbon di Industri Batubara


Pada film Star Wars, Cloud City adalah fasilitas pemrosesan gas yang canggih. Filosofinya sederhana: gas yang berbahaya atau berharga harus ditangkap dan distabilkan. Industri batubara modern mengadopsi prinsip ini. Alih-alih membiarkan asap cerobong PLTU membumbung bebas ke angkasa, teknologi modern mencegatnya.


Pergeseran paradigma ini mengubah batubara dari sekadar "bahan bakar kotor" menjadi sumber daya hidrokarbon yang bisa dikelola. Inovasi berfokus pada dua jalur utama: Membersihkan Pembakaran (teknologi HELE) dan Menangkap Sisa Pembakaran (CCUS). Tanpa teknologi ini, relevansi batubara akan runtuh di bawah target Net Zero Emission global [2].


Teknologi Kunci Transisi Energi: CCUS dan Hilirisasi Batubara


Industri ini kini berinvestasi pada teknologi yang memisahkan karbon dari energi, serta mengubah batubara menjadi produk non listrik.


A. Carbon Capture (Kamar Pembeku Emisi)

Seperti Han Solo yang dibekukan, CO2 dari pembakaran batubara ditangkap menggunakan pelarut kimia (amine) atau membran filtrasi sebelum keluar dari cerobong asap.

  • Penyimpanan (Storage): Gas CO2 yang tertangkap dimampatkan menjadi cairan, lalu disuntikkan kembali jauh ke dalam formasi geologi tua di bawah tanah (bekas sumur minyak atau akuifer garam), di mana ia akan termineralisasi dan tersimpan permanen selama ribuan tahun.

  • Pemanfaatan (Utilization): CO2 tidak hanya dibuang, tetapi digunakan untuk Enhanced Oil Recovery (EOR) disuntikkan ke sumur minyak tua untuk mendorong sisa minyak keluar, menciptakan nilai ekonomi dari limbah [3].


B. Hilirisasi: Gasifikasi Batubara (DME)

Di Indonesia, strategi utamanya adalah tidak membakar batubara sama sekali, melainkan mengubah wujudnya. Melalui proses Gasifikasi, batubara dipanaskan dengan uap dan oksigen untuk menghasilkan Syngas.

  • DME (Dimethyl Ether): Gas ini kemudian diproses menjadi DME, zat yang memiliki karakteristik mirip LPG. Ini adalah visi strategis untuk mengurangi impor LPG dengan memanfaatkan cadangan batubara domestik yang melimpah, mengubah "emas hitam" menjadi gas bersih untuk rumah tangga [4].


C. High Efficiency, Low Emission (HELE)

Sebelum sampai ke tahap penangkapan, efisiensi pembakaran ditingkatkan. Pembangkit listrik Ultra Supercritical (USC) membakar batubara pada suhu dan tekanan yang jauh lebih tinggi, menghasilkan lebih banyak listrik dengan jumlah batubara yang lebih sedikit, secara efektif menurunkan intensitas emisi per megawatt.


Diagram alur teknologi CCUS yang menunjukkan proses penangkapan CO₂ dari cerobong, kompresi, transportasi, dan penyimpanan geologi di bawah tanah.
Gambar 1: Diagram Skematis Teknologi CCUS - Penangkapan dan Penyuntikan CO2 ke Dalam Tanah

Ekonomi Batubara di Era Transisi: Tantangan Regulasi dan Modal Besar

Transformasi ini menciptakan pasar karbon baru namun menuntut investasi modal yang sangat besar.

A. Ekonomi Karbon dan Pajak

  • Carbon Pricing: Dengan diberlakukannya Pajak Karbon (Carbon Tax) dan Bursa Karbon di banyak negara (termasuk Indonesia), perusahaan batubara memiliki insentif finansial untuk melakukan CCUS. Jika biaya "membekukan" karbon lebih murah daripada membayar pajak emisinya, maka teknologi ini menjadi layak secara bisnis [5].

  • Pendanaan Hijau: Tantangan terbesar adalah bank global mulai menghentikan pendanaan untuk proyek batubara baru. Perusahaan batubara harus membuktikan komitmen transisi mereka (lewat gasifikasi atau CCUS) untuk tetap mendapatkan akses modal.


B. Tantangan Teknis dan Biaya

Membangun fasilitas penangkapan karbon (seperti kamar pembeku di Cloud City) sangat mahal dan memakan energi. Tantangannya adalah menurunkan biaya penangkapan per ton CO2 agar teknologi ini bisa diadopsi secara massal tanpa membebani harga listrik konsumen secara berlebihan.


Ilustrasi kompleks gasifikasi batubara yang mengubah batubara menjadi syngas dan diproses lebih lanjut menjadi DME sebagai substitusi LPG.
Gambar 2: Kompleks Gasifikasi Batubara menjadi DME


Jembatan Menuju Masa Depan Energi


Adegan pembekuan karbon di Empire Strikes Back adalah solusi darurat untuk situasi kritis. Demikian pula, teknologi CCUS dan Gasifikasi adalah solusi kritis bagi industri batubara untuk bertahan hidup di tengah krisis iklim.


Batubara tidak akan hilang dalam semalam, tetapi cara penggunaannya harus berubah drastis. Dengan mengadopsi teknologi "penangkapan" emisi dan transformasi ke produk gas (DME), industri batubara berusaha memposisikan dirinya bukan sebagai musuh lingkungan, melainkan sebagai jembatan transisi energi yang andal, memastikan keamanan energi tetap terjaga sementara dunia bergerak menuju energi terbarukan.


Pemerintah harus segera memfinalisasi regulasi hub dan cluster CCUS di Indonesia untuk memberikan kepastian hukum dan menarik investasi global pada proyek penyimpanan karbon. Selain itu, diperlukan skema pendanaan campuran (blended finance) untuk menutup kesenjangan biaya awal (Capex) proyek CCUS dan hilirisasi agar dapat diadopsi secara komersial lebih cepat.


Referensi


[1] Star Wars: Episode V - The Empire Strikes Back (1980) - IMDb. Diakses pada 12 November 2025, dari https://www.imdb.com/title/tt0080684/

[2] IEA (International Energy Agency). (2023). The Role of CCUS in Low-Carbon Power Systems. Diakses pada 12 November 2025, dari https://www.iea.org/reports/ccus-in-clean-energy-transitions

[3] Global CCS Institute. (2024). Understanding Carbon Capture and Storage. Diakses pada 12 November 2025, dari https://www.globalccsinstitute.com/resources/what-is-ccs/

[4] Kementerian ESDM Republik Indonesia. (2022). Hilirisasi Batubara Menjadi DME Sebagai Pengganti LPG. Diakses pada 12 November 2025, dari https://www.esdm.go.id/id/media-center/arsip-berita/hilirisasi-batubara-kunci-kemandirian-energi-nasional

[5] World Bank. (2024). State and Trends of Carbon Pricing 2024. Diakses pada 12 November 2025, dari https://openknowledge.worldbank.org/handle/10986/41596

[G1] Diagram Skematis Teknologi CCUS - Penangkapan dan Penyuntikan CO2 ke Dalam Tanah.https://www.researchgate.net/figure/The-basic-principle-for-Carbon-Capture-and-Storage-CCS_fig1_328352287 


Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bottom of page