Mengurangi Sampah Plastik dengan Finder Feble Nano Bio Edible Film Berbasis Rumput Laut dan Kitosan
- Ahmad Fahryan Pasaribu

- 15 Des 2025
- 5 menit membaca
Coba bayangkan seberapa sering kita berhadapan dengan plastik setiap hari. Saat beli ciki di warung, kopi susu di minimarket, roti di toko kue, frozen food di supermarket, sampai bumbu dapur di dapur rumah hampir semuanya dibungkus plastik. Begitu isinya habis, bungkusnya masuk ke tempat sampah, lalu perjalanannya berlanjut entah ke TPA, sungai, pantai, atau laut. Di alam, plastik-plastik itu bisa bertahan puluhan hingga ratusan tahun.
Seiring waktu, plastik akan pecah menjadi potongan yang sangat kecil, yang kita sebut mikroplastik. Mikroplastik ini bisa termakan ikan dan hewan laut lainnya, lalu pada akhirnya berpotensi masuk ke tubuh manusia lewat makanan. Ini bukan lagi isu jauh di luar sana; ini menyentuh makanan yang kita konsumsi setiap hari. Pertanyaannya, apakah kita akan terus nyaman dengan kebiasaan ini, atau mulai mencari cara yang lebih bijak?
Masalah di Balik Plastik Kemasan Makanan
Plastik sebenarnya punya banyak kelebihan. Ia ringan, murah, kuat, dan mampu melindungi makanan dari kotoran, udara, dan kelembapan. Itulah mengapa plastik begitu dominan di dunia kemasan makanan. Namun, justru karena sifat sekali pakai itulah masalah muncul. Banyak kemasan yang setelah beberapa menit digunakan langsung dibuang, dan sebagian besar tidak pernah didaur ulang.
Banyak jenis kemasan makanan modern terdiri dari beberapa lapisan bahan berbeda yang digabung menjadi satu. Kombinasi ini bagus untuk melindungi produk, tetapi sangat menyulitkan proses daur ulang, karena mesin dan fasilitas daur ulang biasanya dirancang untuk menangani jenis material yang lebih sederhana. Akibatnya, sebagian besar kemasan berakhir sebagai sampah yang menumpuk di TPA atau bocor ke lingkungan.
Di saat yang sama, kita sering menjumpai klaim “plastik ramah lingkungan” di pasaran. Sayangnya, tidak semua benar-benar jelas dan jujur. Ada yang hanya lebih cepat hancur menjadi serpihan kecil, tetapi tetap plastik. Ada yang membutuhkan fasilitas kompos khusus, sementara fasilitas seperti itu belum banyak tersedia di Indonesia. Ini membuat masyarakat bingung: mana yang benar-benar solusi, dan mana yang hanya sekadar label menarik.
Mengenal Bio Edible Film
Di tengah kebingungan tersebut, muncul alternatif yang menarik, yaitu bio edible film. Secara sederhana, ini adalah lembaran tipis mirip plastik, tetapi dibuat dari bahan alami yang biasa digunakan dalam pangan. Contohnya adalah rumput laut, pati dari tanaman, atau protein dari sumber nabati dan hewani. Film ini bisa digunakan untuk membungkus makanan atau menjadi lapisan di bagian dalam kemasan.
Disebut “edible” karena bahan penyusunnya aman untuk makanan dan, pada prinsipnya, bisa dikonsumsi bersama produk. Dalam praktiknya, film bisa digunakan sebagai lapisan yang melindungi permukaan makanan, sebagai pembungkus yang menempel langsung, atau sebagai pelapis di bagian dalam kemasan lain untuk mengurangi kontak langsung makanan dengan plastik fosil.
Keunggulan utama bio edible film adalah asalnya dari bahan hayati, bukan minyak bumi. Dengan pemilihan formula yang tepat, film ini dapat dirancang supaya lebih mudah terurai di lingkungan. Teknologi yang lebih maju, termasuk teknologi nano, dapat dimanfaatkan untuk membuat film menjadi lebih kuat, lebih lentur, dan lebih baik dalam menghambat masuknya udara yang dapat membuat makanan cepat rusak.
Finder Feble Nano Bio Edible Film
Salah satu contoh pengembangan bio edible film di Indonesia adalah Finder Feble Nano Bio Edible Film, atau singkatnya Feble. Ini adalah inovasi yang memanfaatkan kekayaan bahan alam Indonesia, terutama dari laut. Feble dibuat dari bahan seperti carrageenan yang berasal dari rumput laut, serta turunan kitosan yang dapat diperoleh dari limbah cangkang udang atau rajungan. Bahan-bahan tersebut selama ini sering dianggap produk samping yang nilainya tidak terlalu tinggi, padahal punya potensi besar jika diolah dengan pendekatan teknologi.

Melalui proses pengolahan tertentu, bahan-bahan alam tersebut disusun ulang menjadi lembaran film yang tipis, transparan, dan rapi, dengan tampilan yang tidak jauh beda dari plastik kemasan yang biasa kita lihat. Film ini cukup kuat dan lentur, sehingga tidak mudah robek, dan dapat menyesuaikan kebutuhan berbagai jenis produk. Selain itu, Feble dirancang untuk memiliki kemampuan melindungi makanan dari kontak berlebihan dengan udara, yang dapat membantu menjaga rasa dan kualitas produk lebih lama.
Yang membuat Feble menarik bukan hanya sisi teknologinya, tetapi juga cerita di baliknya. Dengan memanfaatkan rumput laut dan bahan hayati lain dari wilayah pesisir seperti Bali dan Indonesia Timur, pengembangan film ini membuka peluang peningkatan nilai tambah bagi komunitas lokal. Bahan yang tadinya sekadar diekspor sebagai komoditas mentah, bisa naik kelas menjadi bagian dari produk kemasan berteknologi tinggi. Ini artinya, lembaran tipis Feble membawa dua pesan sekaligus: inovasi sains dan kebanggaan terhadap sumber daya lokal.
Manfaat bagi Berbagai Pihak
Bagi konsumen, kehadiran kemasan berbasis bahan alami memberikan rasa percaya diri yang lebih besar. Orang tidak hanya peduli pada rasa dan harga, tetapi juga pada bagaimana produk dikemas dan apa dampaknya terhadap lingkungan. Mengetahui bahwa produk dibungkus dengan film yang berbasis bahan hayati, bukan murni plastik fosil, dapat menjadi nilai tambah yang penting saat memilih di rak toko.
Bagi pelaku usaha, mulai dari UMKM sampai brand besar, kemasan seperti Feble dapat menjadi sarana untuk membangun citra yang lebih kuat. Di tengah persaingan yang ketat, kemampuan bercerita bahwa produk dikemas dengan film berbahan rumput laut Indonesia, misalnya, bisa menjadi pembeda yang menarik. Untuk pasar ekspor, langkah menggunakan kemasan yang lebih ramah lingkungan juga dapat membantu memenuhi tuntutan pembeli luar negeri yang semakin memperhatikan aspek keberlanjutan.
Bagi lingkungan, penggantian sebagian kemasan plastik sekali pakai dengan film berbasis bahan hayati berarti peluang pengurangan volume sampah plastik. Semakin banyak produsen yang beralih, semakin besar potensi penurunan kebocoran plastik ke laut dan ekosistem lainnya. Tentu belum semua masalah selesai, tetapi ini adalah langkah konkret ke arah yang benar.
Tantangan dan Peluang
Perlu diakui, perubahan ini tidak bisa terjadi begitu saja. Ada tantangan teknis yang harus diatasi. Formulasi film perlu disesuaikan dengan sifat produk, apakah kering, basah, berminyak, atau disimpan beku. Film juga harus cocok dengan mesin pengemas yang sudah dimiliki pabrik, supaya tidak mengganggu proses produksi. Selain itu, produksi dalam skala besar harus konsisten kualitasnya dan harganya harus bersaing agar bisa diterima pasar.
Namun, Indonesia memiliki modal yang besar untuk bergerak ke arah ini. Kekayaan bahan baku seperti rumput laut, keberadaan banyak perguruan tinggi dan lembaga riset, serta pasar makanan dan minuman yang hidup dan dinamis adalah kombinasi yang kuat. Jika peneliti, pelaku industri, pemerintah, dan masyarakat bisa bekerja bersama, inovasi seperti Finder Feble Nano Bio Edible Film berpeluang menjadi bagian penting dari solusi kemasan masa depan di negeri ini.
Ayo Mulai dari Langkah Sederhana
Perubahan besar selalu dimulai dari kebiasaan kecil yang diulang terus-menerus.
Sebagai konsumen, kita bisa mulai dengan lebih memperhatikan kemasan produk yang kita beli dan memberi dukungan kepada brand yang berusaha menggunakan kemasan yang lebih ramah lingkungan. Mengurangi penggunaan plastik sekali pakai di rumah, misalnya dengan membawa tas belanja sendiri atau mengurangi pemakaian kantong dan sedotan plastik, juga merupakan langkah yang berharga.
Bagi pelaku usaha makanan dan minuman, ini saat yang tepat untuk mulai mempertimbangkan uji coba kemasan alternatif. Tidak harus langsung mengganti semua; bisa dimulai dari satu lini produk, satu jenis kemasan, atau satu program promosi yang menggunakan kemasan berbasis bio edible film seperti Feble. Dari situ, pengalaman dan data bisa dikumpulkan, lalu perlahan-lahan diperluas jika hasilnya positif.
Untuk mereka yang berkecimpung di dunia riset, kebijakan, atau komunitas lingkungan, dukungan dapat diberikan dalam bentuk penguatan regulasi yang mendorong solusi nyata, penyediaan skema pendanaan riset dan inovasi, hingga edukasi publik agar masyarakat tidak mudah tertipu oleh label “ramah lingkungan” yang belum jelas dasarnya.
Plastik sekali pakai memang sudah lama membantu kehidupan modern menjadi praktis, tetapi sekarang kita tahu bahwa ada harga yang harus dibayar oleh lingkungan. Bio edible film, seperti Finder Feble Nano Bio Edible Film, menawarkan jalan lain yang lebih bersahabat bagi bumi. Mungkin bentuknya hanya lembaran tipis, tetapi di dalamnya tersimpan peluang: laut yang lebih bersih, ekosistem yang lebih sehat, dan masa depan yang lebih baik untuk generasi yang akan datang.




Komentar