top of page
unpad_edited_edited_edited.png

Dampak Krisis Global terhadap Inovasi: Apa yang Terjadi pada R&D?

  • Gambar penulis: Resni Rindayani
    Resni Rindayani
  • 18 Des 2025
  • 4 menit membaca

Dalam beberapa tahun terakhir, dunia dihadapkan pada gelombang krisis bertubi-tubi—perang geopolitik, perlambatan ekonomi global, disrupsi rantai pasok, hingga tekanan inflasi yang mempengaruhi hampir seluruh sektor industri. Namun ada pertanyaan besar yang jarang dibahas secara mendalam apa yang terjadi pada riset dan pengembangan (R&D) ketika dunia berada dalam ketidakpastian seperti ini? Apakah perusahaan menghentikan investasi risetnya? Apakah negara menunda inovasi? Atau justru krisis menjadi momentum lahirnya terobosan yang lebih besar?

Artikel ini mengupas bagaimana krisis global mengubah dinamika R&D di berbagai negara, serta maknanya bagi Indonesia yang tengah memperkuat hilirisasi riset nasional.


Global Crisis
Gambar 1. Global Crisis

Krisis Global: Antara Ancaman dan Katalis Inovasi

Krisis global menunjukkan efek yang tidak selalu linear terhadap inovasi. Banyak perusahaan mengurangi belanja R&D ketika ketidakpastian meningkat, tetapi negara-negara yang paling inovatif justru memperbesar investasinya saat krisis.


Sebagian perusahaan menahan investasi R&D

Survei PwC Global CEO Survey 2024–2025 menunjukkan bahwa semakin banyak CEO yang menunda investasi jangka panjang, termasuk R&D, karena tekanan geopolitik dan kondisi ekonomi yang tidak menentu [1]. Hal ini juga didukung oleh laporan OECD Science, Technology and Innovation Outlook 2023–2024, yang menunjukkan bahwa perusahaan dengan margin tipis cenderung memangkas pengeluaran R&D saat memasuki fase resesi [2].

Namun negara inovatif justru meningkatkan anggaran R&D

Berbeda dengan sektor swasta, negara-negara dengan ekosistem inovasi maju mengambil strategi sebaliknya. OECD mencatat bahwa selama pandemi dan krisis energi 2022–2024, negara seperti Korea Selatan, Jerman, dan AS meningkatkan anggaran riset publik, terutama pada transformasi hijau dan digital [3].

Krisis, bagi negara-negara ini, bukan alasan untuk berhenti tetapi justru pemicu percepatan inovasi.


Perang, Inflasi, dan Rantai Pasok: Dampaknya pada Industri dan Laboratorium

Krisis geopolitik memperparah gangguan rantai pasok global, terutama komponen semikonduktor, energi, pangan, dan bahan baku industri. Kondisi ini berdampak langsung terhadap kemampuan riset dan komersialisasi.


1. Gangguan bahan baku & komponen eksperimen

Banyak laboratorium di Eropa dan Asia melaporkan kesulitan mendapatkan reagent kimia, chip semikonduktor, perangkat elektronik, dan instrumen riset akibat supply chain yang terganggu. OECD juga menyoroti bahwa biaya logistik dan komponen riset meningkat hingga 30–40% di beberapa sektor [3]


2. Produksi industri terganggu

Riset yang sudah siap dihilirkan menjadi produk sering terhambat karena pabrik kesulitan memperoleh bahan baku atau terganjal kenaikan harga energi. IMF mencatat bahwa krisis energi 2022–2023 menyebabkan beberapa pabrik di Eropa menurunkan kapasitas produksi hingga 60% [4]


3. Perubahan prioritas riset

Industri yang sebelumnya fokus pada inovasi jangka panjang kini beralih ke inovasi terkait:

  • efisiensi energi

  • otomatisasi proses

  • substitusi bahan baku impor

  • teknologi digital dan AI untuk efisiensi operasional[5]

Krisis dengan cepat mengubah arah riset dan kebutuhan inovasi industri.


Perilaku Investasi: Sektor Mana yang Tetap Inovatif Saat Krisis?

Menurut McKinsey R&D Pulse Survey 2024 [5], beberapa sektor justru meningkatkan investasi riset saat krisis global:

1. Teknologi & semikonduktor

Karena tingginya kebutuhan chip global dan dorongan negara menuju kemandirian teknologi.


2. Kesehatan & bioteknologi

Krisis kesehatan global dan kebutuhan produksi vaksin mendorong belanja R&D naik signifikan.


3. Energi baru & transisi hijau

Konflik geopolitik mempercepat transformasi menuju energi terbarukan, material baterai, dan teknologi hydrogen.


4. AI, otomasi, dan digitalisasi industri

Ketika biaya meningkat, industri mengejar efisiensi melalui otomasi.

Sektor-sektor inilah yang menjadi pendorong utama inovasi global meski di tengah tekanan ekonomi.


Dampak Krisis terhadap Negara Berkembang Termasuk Indonesia

Negara berkembang menghadapi tantangan berbeda. OECD [3] dan UNESCO [6] melaporkan masalah berikut:

1. Pendanaan riset publik terbatas

RI masih memiliki rasio belanja litbang terhadap PDB sekitar 0,3%, jauh di bawah Korea Selatan (4,8%) atau Jepang (3,3%). Ini mempersempit kapasitas inovasi saat krisis.


2. Ketergantungan impor teknologi & komponen

Gangguan supply chain memperlambat hilirisasi riset di sektor seperti:

  • farmasi

  • alat kesehatan

  • elektronika

  • agroindustri

  • material lanjutan


3. Kesenjangan SDM & infrastruktur

Krisis memaksa banyak institusi menunda kebutuhan peralatan riset baru karena kenaikan harga.

Namun Indonesia juga menunjukkan respon positif:

  • Pemerintah mendorong hilirisasi riset melalui BRIN, program matching fund, dan prioritas bidang strategis.

  • Industri semakin melirik inovasi substitusi impor sebagai peluang bisnis baru.

  • Perguruan tinggi memperkuat kolaborasi riset lintas kampus dan dengan industri.

Krisis global membuat hilirisasi riset Indonesia semakin relevan.


Strategi Menghadapi Krisis: Pelajaran dari Negara Maju

Berdasarkan studi OECD dan McKinsey, negara dan perusahaan yang tetap inovatif selama krisis memiliki ciri berikut:

1. Investasi riset tidak dipangkas—justru dialihkan

Fokus pada teknologi strategis:

  • AI

  • semikonduktor

  • energi baru

  • bioteknologi

  • advanced materials


2. Pembentukan jaringan kolaborasi R&D yang luas

Inovasi tidak berjalan sendirian tetapi kolaborasi dengan universitas, industri, startup, dan pemerintah menjadi kunci.


3. Akselerasi komersialisasi & hilirisasi

Krisis mempercepat adopsi teknologi, sehingga inovasi harus siap “go to market” lebih cepat daripada sebelumnya.


4. Transformasi digital dalam proses riset

AI untuk simulasi, otomatisasi laboratorium, prediksi eksperimen, hingga analisis data mengurangi biaya riset hingga 40% dalam beberapa industri.


Kesimpulan

Krisis global bukan hanya ujian ekonomi tetapi juga ujian kedewasaan ekosistem inovasi. Negara dan perusahaan yang bertahan bukanlah yang membuat pengurangan terbesar, tetapi yang mengalihkan strategi, memperkuat kolaborasi, dan mempercepat hilirisasi riset.

Bagi Indonesia, momentum krisis global harus dimanfaatkan untuk memperkuat sektor riset strategis, mengurangi ketergantungan impor, dan mempercepat komersialisasi teknologi lokal.


Referensi

  1. PwC (2024). 27th Global CEO Survey.

    (https://www.pwc.com/gx/en/ceo-survey/2024/download/27th-ceo-survey.pdf)

  2. OECD (2024). Science, Technology and Innovation Outlook 2024. 

    (https://www.oecd.org/en/publications/serials/oecd-science-technology-and-innovation-outlook_g1g6d9a8.html)

  3. OECD (2023). R&D and Business Innovation Under Global Crisis. 

    (https://www.oecd.org/innovation/)

  4. IMF (2023). World Economic Outlook: Inflation and Supply Chain Recovery.

    (https://www.imf.org/en/Publications/WEO)

  5. McKinsey Global Institute (2024). R&D Pulse Survey.

    (https://www.mckinsey.com/capabilities/strategy-and-corporate-finance/our-insights)

  6. UNESCO (2023). Science Report. (https://www.unesco.org/reports/science/2023/)

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bottom of page