Dampak AI terhadap Hilirisasi Riset: Peluang & Tantangan bagi Indonesia
- Resni Rindayani

- 18 Des 2025
- 4 menit membaca
Dalam beberapa tahun terakhir, perkembangan Artificial Intelligence (AI) telah mengubah wajah riset global. Dari cara penemuan ide, metode eksperimen, hingga kecepatan komersialisasi. Di Indonesia, arus adopsi AI semakin nyata dan menjanjikan. Namun begitu, hilirisasi riset berbasis AI tidak otomatis mulus. Agar AI benar-benar menjadi katalis inovasi yang berdampak, kita perlu memahami peluang sekaligus tantangan yang melekat.

Peluang AI sebagai “Turbo” Hilirisasi Riset
Mempercepat proses riset dan temuan inovasi
AI sudah terbukti meningkatkan efisiensi riset. Studi internasional menunjukkan bahwa ketika perusahaan besar memperkenalkan AI dalam lab R&D, jumlah penemuan bahan/material baru meningkat signifikan, riset menghasilkan 44% lebih banyak temuan material, sementara paten naik sekitar 39%, dan inovasi produk turunannya meningkat 17% [1]. Artinya jika AI dikelola dengan baik dapat mengakselerasi riset ke tingkat yang memungkinkan hilirisasi lebih cepat.
Membantu validasi pasar dan adaptasi cepat terhadap kebutuhan konsumen
AI memudahkan riset pasar, analisis data pengguna, hingga simulasi skenario sebelum produk dirilis menjadi hal yang memperkecil risiko kegagalan ketika inovasi dijual. Di Indonesia, hasil survei 2025 menunjukkan bahwa mayoritas responden optimis terhadap manfaat AI: efisiensi kerja, pengambilan keputusan cepat, kreativitas, menandakan pasar domestik punya potensi besar menyerap inovasi berbasis AI [2] Dengan basis data & analisis AI, riset tidak cuma berhenti sebagai teori, melainkan bisa langsung diuji terhadap kebutuhan nyata.
Menjadi bagian dari strategi nasional: kebijakan dan regulasi mendukung
Pemerintah Indonesia sudah menempatkan AI sebagai bagian dari prioritas nasional. Pada 2025, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) mendorong pembangunan ekosistem AI dan semikonduktor sebagai pilar transformasi teknologi nasional sebagai upaya hilirisasi riset dan kemandirian teknologi [3] Peluang ini membuka jalan bagi kolaborasi riset–industri–pemerintah serta investasi teknologi yang lebih sistemik dan terarah.
Potensi kontribusi ekonomi dan transformasi sektor
Contoh di sektor kesehatan: studi menunjukkan bahwa penggunaan AI dalam layanan kesehatan dapat menyumbang peningkatan output ekonomi secara signifikan, serta nilai tambah besar bagi industri medis [4]. Dengan demikian, hilirisasi riset berbasis AI tidak sekadar soal teknologi tetapi tentang nilai ekonomi, efisiensi layanan, dan daya saing nasional.
Tantangan yang Harus Diantisipasi agar AI Bisa Benar-Benar Hilir
Berikut tantangan yang harus diantisipasi:
Infrastruktur data dan kualitas data — prasyarat AI
AI efektif hanya jika didukung data berkualitas tinggi, relevan, dan representatif. Dalam konteks global (termasuk hilirisasi produk), banyak riset menunjukkan bahwa data yang bias, tidak lengkap, atau terbatas menyebabkan output AI menyesatkan sehingga hasil riset gagal dikomersialisasikan [5] Di Indonesia, ini berarti perlu kebijakan data, sistem manajemen data riset, dan investasi infrastruktur data nasional agar AI bisa diandalkan.
Risiko etika, regulasi, dan kesiapan sosial-institusional
AI membawa dilema: dari privasi, bias algoritmik, hingga tanggung jawab sosial. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa banyak perusahaan dan lab AI komersial mengabaikan aspek etika & tanggung jawab, sebuah risiko besar jika hasil riset langsung diproduksi massal [1]. Negara seperti Indonesia perlu regulasi, kontrol kualitas, serta kebijakan transparan agar adopsi AI tidak mengundang masalah hukum atau sosial di kemudian hari.
Kesenjangan kapasitas riset, SDM & ekosistem riset yang belum merata
Meskipun ada dorongan untuk AI dan semikonduktor, tidak semua perguruan tinggi atau lembaga riset memiliki infrastruktur, SDM, atau sumber daya yang sama. Hal ini berisiko menciptakan inovasi “tersendat”: riset yang bagus di kampus besar, tapi stagnan di kampus kecil atau daerah. Untuk hilirisasi berhasil, dibutuhkan pemerataan kapasitas riset, pelatihan talenta, serta kemitraan lintas universitas, industri, dan pemerintah agar inovasi berbasis AI bisa merata dan berdampak luas.
Ketergantungan terhadap teknologi global: modal, know-how, dan komponen semikonduktor
AI dan teknologi pendukungnya memerlukan perangkat keras dan perangkat lunak canggih terkadang impor. Ketergantungan ini bisa menjadi hambatan, terutama jika regulasi internasional, harga, atau rantai pasok global terganggu. Indonesia perlu memperkuat ekosistem semikonduktor, pipeline talenta, dan kemampuan lokal agar hilirisasi riset berbasis AI tidak bergantung sepenuhnya pada pihak luar.
Rekomendasi Strategis untuk Pemangku Kepentingan di Indonesia
Bagi Pemerintah, Industri, Universitas, dan Investor. Berikut langkah strategis agar AI dapat menjadi jembatan hilirisasi riset:
Bangun infrastruktur data nasional & pusat data riset: memastikan data berkualitas, aman, dan dapat diakses untuk riset & inovasi.
Perkuat kolaborasi riset–industri–pemerintah: memfasilitasi kemitraan untuk mengubah riset AI menjadi produk, layanan, atau solusi nyata, bukan sekadar publikasi.
Regulasi & kebijakan etika AI: tetapkan regulasi dan standar etika untuk pengembangan & komersialisasi AI, perlindungan data, dan tanggung jawab sosial.
Pendidikan & pengembangan SDM: siapkan talenta lokal yang mampu mengembangkan, menggunakan, dan memelihara AI, dari riset hingga aplikasi industri.
Dukungan fiskal & insentif untuk riset hilirisasi: grant, tax incentive, kemudahan investasi, fasilitas inkubasi, agar riset AI bisa terus berkembang sampai siap pasar.
Kesimpulan
Peluang besar AI terhadap Hilirisasi Riset di Indonesia yakni mempercepat riset, membuka jalan komersialisasi, dan mendongkrak daya saing industri. Namun, jika tidak disertai infrastruktur data, regulasi, kolaborasi, dan kesiapan institusi, potensi ini bisa sia-sia.
Hilirisasi riset berbasis AI butuh strategi holistik: tidak hanya menghasilkan inovasi, tetapi memastikan inovasi tersebut matang secara teknologi, pasar, sosial, serta berkelanjutan secara ekonomi dan institusional.
Dengan fondasi yang benar, Indonesia bisa memanfaatkan AI bukan hanya sebagai alat bantu riset tetapi sebagai mesin transformasi industri, ekonomi, dan pembangunan nasional.
Referensi
“Artificial Intelligence, Scientific Discovery, and Product Innovation” (2024). Studi tentang bagaimana AI meningkatkan output riset dan inovasi produk. (arXiv)
Survei publik 2025 tentang persepsi manfaat AI di Indonesia (Kompas/Tekno 2025). (Tekno Kompas)
“Memajukan Ekosistem AI dan Semikonduktor Indonesia” – kebijakan nasional 2025 (Kemdiktisaintek). (Dikti Kemdikbud)
Studi “Dampak Penggunaan Artificial Intelligence di Sektor Kesehatan terhadap Sektor Bisnis di Indonesia” (2025) — mengilustrasikan potensi ekonomi dari riset & aplikasi AI. (E-Journal UMM Bungo)
Kajian tentang tantangan adopsi AI dalam perdagangan global — penting terkait kesiapan data & regulasi (MDPI, 2025). (MDPI)




Komentar