ASIC 2026 Perkuat Kolaborasi Riset Indonesia -Tiongkok, Prof. I Made Joni Hadir sebagai Pembicara
- Ulfa Fauziah, M.Si.

- 8 jam yang lalu
- 3 menit membaca
Asian Scholars International Conference (ASIC) 2026 hadir sebagai momentum penting dalam memperkuat kolaborasi riset lintas negara di kawasan Asia-Pasifik. Konferensi internasional ini tidak hanya menjadi wadah pertukaran ilmu pengetahuan, tetapi juga menegaskan peran strategis Indonesia dalam mendorong inovasi, keberlanjutan, dan kemajuan teknologi berbasis kolaborasi global.

ASIC 2026 merupakan konferensi akademik internasional yang diselenggarakan oleh Perluni Tiongkok bekerja sama dengan berbagai organisasi seperti PPI Tiongkok, PPIT Nanjing, dan Scholars of Indonesia–China Network (SINO). Mengusung tema “Strengthening Regional Research through Indonesia–China Collaboration for Innovation, Culture, and Sustainability,” acara ini menjadi forum strategis yang mempertemukan akademisi, peneliti, praktisi, hingga mahasiswa dari berbagai negara.
Konferensi yang akan digelar pada 18–19 April 2026 ini mengadopsi format hybrid, memungkinkan partisipasi baik secara langsung di Nanjing maupun daring dari berbagai belahan dunia. Pendekatan ini membuka peluang kolaborasi yang lebih luas serta memperkuat jejaring riset internasional di tengah tantangan global yang semakin kompleks.
ASIC 2026 dirancang sebagai platform multidisiplin yang mencakup berbagai bidang, mulai dari sains dan teknologi, kesehatan dan biomedis, hingga kebijakan publik dan pembangunan berkelanjutan. Fokus utama konferensi ini adalah mendorong solusi berbasis riset terhadap isu-isu strategis seperti kecerdasan buatan yang bertanggung jawab, transformasi digital, ketahanan lingkungan, serta kesehatan masyarakat berbasis data.
Salah satu hal yang menjadi sorotan dalam penyelenggaraan ASIC 2026 adalah kehadiran sejumlah pembicara ternama dari berbagai institusi nasional dan internasional. Di antaranya adalah Prof. Dr. Eng. I Made Joni, M.Sc. dari Universitas Padjadjaran yang turut berkontribusi sebagai pembicara dalam konferensi ini.
Sebagai akademisi dan peneliti yang memiliki rekam jejak kuat di bidang nanoteknologi dan material maju, kehadiran Prof. I Made Joni di ASIC 2026 diharapkan dapat memberikan perspektif strategis dalam pengembangan riset berbasis inovasi di Indonesia. Kontribusinya menjadi sangat relevan, terutama dalam konteks penguatan kolaborasi riset internasional yang berorientasi pada solusi nyata dan berdampak luas bagi masyarakat.

Selain Prof. I Made Joni, ASIC 2026 juga menghadirkan sejumlah tokoh penting lainnya, termasuk perwakilan pemerintah, akademisi global, serta pakar dari berbagai disiplin ilmu. Kehadiran para pembicara ini mencerminkan komitmen kuat konferensi dalam menghadirkan diskursus ilmiah yang berkualitas tinggi sekaligus mendorong sinergi lintas sektor.
Lebih dari sekadar konferensi, ASIC 2026 juga menempatkan mahasiswa dan peneliti muda sebagai aktor utama dalam ekosistem riset masa depan. Dengan mendorong partisipasi aktif generasi muda, konferensi ini berupaya menciptakan ruang kolaboratif yang inklusif dan inovatif. Hal ini sejalan dengan visi untuk membangun ekosistem akademik yang berkelanjutan dan berdampak global.
Melalui empat jalur tematik utama—yakni Frontier Science & Responsible AI, Technology & Digital Infrastructure, Sustainable Development, serta Health & Biomedicine—ASIC 2026 memberikan ruang bagi berbagai disiplin ilmu untuk saling terhubung dan menghasilkan solusi lintas sektor. Pendekatan ini menjadi kunci dalam menjawab tantangan global yang tidak lagi dapat diselesaikan secara parsial.
Dengan latar belakang meningkatnya kebutuhan akan kolaborasi internasional, ASIC 2026 menjadi langkah konkret dalam memperkuat posisi Indonesia sebagai bagian dari ekosistem riset global. Sinergi antara Indonesia dan Tiongkok dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi diharapkan mampu mendorong inovasi yang berkelanjutan serta mempercepat pencapaian tujuan pembangunan jangka panjang, termasuk visi Indonesia Emas 2045.
Partisipasi aktif para akademisi Indonesia, termasuk Prof. I Made Joni, menunjukkan bahwa kontribusi ilmuwan nasional semakin diakui di tingkat internasional. Hal ini sekaligus menjadi peluang untuk memperluas dampak riset dalam negeri agar lebih kompetitif dan relevan secara global.
Sebagai bagian dari ekosistem inovasi, keterlibatan berbagai pihak, mulai dari akademisi, industri, hingga pemerintah menjadi kunci keberhasilan implementasi hasil riset. ASIC 2026 diharapkan mampu menjadi katalis dalam mempercepat transfer pengetahuan, pengembangan teknologi, serta kolaborasi strategis antarnegara.
Sebagai langkah lanjutan, para peneliti, akademisi, dan pelaku industri di Indonesia diharapkan dapat terus mengikuti perkembangan riset dan inovasi global melalui platform terpercaya seperti Finder.ac.id. Dengan mengakses berbagai informasi, kolaborasi, dan layanan riset yang tersedia, Finder dapat menjadi mitra strategis dalam mendorong transformasi ilmu pengetahuan menjadi solusi nyata bagi masyarakat.




Komentar