FiNder U-CoE Unpad Hadirkan Prof. Poki Chen, Dorong Kolaborasi Global dan Penguatan Talenta Semikonduktor Indonesia

Di tengah pesatnya perkembangan kecerdasan artifisial, komputasi berperforma tinggi, kendaraan listrik, hingga transformasi industri digital, semikonduktor telah berkembang dari sekadar komponen elektronik menjadi salah satu fondasi strategis perekonomian dunia. Kebutuhan akan teknologi chip yang semakin kompleks juga menempatkan pengembangan talenta, ekosistem riset, dan kolaborasi internasional sebagai agenda penting bagi berbagai negara, termasuk Indonesia. Menjawab tantangan tersebut, FiNder University Center of Excellence (U-CoE) Universitas Padjadjaran menghadirkan kuliah umum internasional yang mempertemukan sivitas akademika dengan salah satu akademisi berpengalaman dari Taiwan untuk membahas perkembangan industri semikonduktor sekaligus membuka wawasan mengenai peluang kolaborasi pendidikan global.

Kuliah umum bertajuk “Advancing Taiwanese Semiconductor Global Collaboration and Educational Outreach” tersebut diselenggarakan pada 27 Agustus 2026 pukul 10.00 WIB di KST Padjadjaran. Kegiatan menghadirkan Prof. Poki Chen dari National Taiwan University of Science and Technology (NTUST) sebagai pembicara, dengan Prof. I Made Joni sebagai host. Selain menjadi forum berbagi pengetahuan, kegiatan ini juga dikemas dalam format Guest Lecture and Student Recruitment, sehingga peserta memperoleh perspektif akademik sekaligus informasi mengenai pengembangan pendidikan dan jejaring internasional.
Prof. Poki Chen merupakan profesor pada Department of Electronic and Computer Engineering, NTUST. Ia menyelesaikan pendidikan sarjana, magister, dan doktor di bidang Electrical Engineering dari National Taiwan University. Pengalaman akademiknya juga mencakup kegiatan pendidikan dan kolaborasi internasional sebagai adjunct professor di Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Indonesia (UI), dan Vellore Institute of Technology (VIT), serta pengalaman sebagai visiting professor pada sejumlah perguruan tinggi di Eropa. Dalam bidang penelitian, fokusnya meliputi desain dan tata letak analog and mixed-signal integrated circuit, termasuk pengembangan time-domain signal processing circuits, time-to-digital converter, digital pulse converter, ADC, DAC, serta berbagai aplikasi berbasis FPGA.

Dalam paparannya, peserta diajak memahami perjalanan Taiwan dari masyarakat yang pada dekade 1950-an masih didominasi sektor pertanian hingga berkembang menjadi salah satu pusat industri semikonduktor terpenting di dunia. Transformasi tersebut tidak berlangsung secara instan, melainkan dibangun melalui pembentukan ekosistem yang mengintegrasikan kebijakan pemerintah, pendidikan tinggi, lembaga riset, dan industri. Model kolaborasi ini menjadi salah satu faktor penting yang memungkinkan Taiwan membangun rantai industri semikonduktor secara komprehensif sekaligus mempertahankan ketersediaan sumber daya manusia berkeahlian tinggi.
Peran strategis semikonduktor diperkirakan akan semakin besar seiring berkembangnya apa yang disebut sebagai Fourth Industrial Revolution. Materi kuliah umum menyoroti proyeksi pasar semikonduktor global yang dapat melampaui USD 1 triliun pada 2030, terutama didorong oleh perkembangan artificial intelligence dan berbagai teknologi digital generasi berikutnya. Dalam konteks tersebut, Taiwan memiliki posisi penting bukan hanya sebagai pusat manufaktur, tetapi juga sebagai sumber pengembangan teknologi, pendidikan, dan talenta semikonduktor. Taiwan memiliki ekosistem dengan lebih dari 300.000 engineer yang mendukung keberlangsungan industrinya.

Salah satu pelajaran penting dari pengalaman Taiwan adalah konsistensi dalam membangun keterhubungan antara pemerintah, perguruan tinggi, lembaga penelitian, dan industri. Pengembangan industri berteknologi tinggi membutuhkan lebih dari sekadar fasilitas produksi. Ketersediaan tenaga ahli, infrastruktur penelitian, mekanisme transfer teknologi, serta sistem pendidikan yang responsif terhadap kebutuhan industri menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan. Taiwan Semiconductor Research Institute (TSRI), misalnya, menjadi salah satu institusi yang menggambarkan bagaimana fasilitas penelitian dan pendidikan dapat berperan dalam mendukung pengembangan kompetensi sekaligus memperkuat ekosistem semikonduktor.
Bagi Indonesia, perspektif tersebut relevan karena pembangunan industri semikonduktor membutuhkan strategi jangka panjang yang tidak semata-mata berorientasi pada investasi fisik. Pengembangan talenta sejak perguruan tinggi, peningkatan kapasitas peneliti, perluasan akses terhadap fasilitas teknologi, serta pembentukan jejaring internasional menjadi prasyarat penting apabila Indonesia ingin meningkatkan keterlibatannya dalam rantai nilai semikonduktor global. Perguruan tinggi dapat mengambil peran sebagai penghubung antara pengembangan ilmu pengetahuan, kebutuhan industri, dan pembentukan generasi baru engineer serta peneliti.
Kuliah umum ini juga menegaskan bahwa perkembangan semikonduktor global tidak harus dipandang semata-mata sebagai kompetisi antarnegara. Materi yang disampaikan membawa gagasan pembangunan ekosistem win-win, yaitu perluasan kerja sama Taiwan dengan mitra internasional untuk membantu pengembangan talenta teknologi, penguatan pusat industri, serta percepatan inovasi. Pendekatan tersebut membuka peluang kolaborasi yang lebih luas bagi kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia, baik melalui pendidikan, penelitian bersama, pertukaran pengetahuan, maupun pengembangan sumber daya manusia.
Kehadiran kegiatan seperti ini sekaligus memperkuat fungsi perguruan tinggi sebagai bagian dari ekosistem inovasi. Mahasiswa tidak hanya diperkenalkan pada perkembangan teknologi secara teoritis, tetapi juga mendapatkan gambaran mengenai dinamika industri internasional dan kebutuhan kompetensi pada masa mendatang. Interaksi langsung dengan akademisi yang memiliki pengalaman dalam pendidikan, riset, publikasi, dan kolaborasi lintas negara memberikan perspektif yang lebih luas mengenai kemungkinan pengembangan karier maupun pendidikan lanjutan pada bidang elektronik dan semikonduktor.

Melalui penyelenggaraan Guest Lecture and Student Recruitment ini, FiNder U-CoE Unpad terus mendorong terbentuknya ruang kolaborasi yang mempertemukan pendidikan, penelitian, inovasi, dan jejaring global. Upaya tersebut menjadi bagian penting dalam menyiapkan sumber daya manusia yang mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi sekaligus meningkatkan keterhubungan Indonesia dengan ekosistem inovasi internasional. Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai kegiatan, program pengembangan inovasi, pelatihan, riset, serta berbagai peluang kolaborasi yang dikembangkan FiNder U-CoE Universitas Padjadjaran, kunjungi finder.ac.id.



